Thursday, January 10, 2013

Selubung Kabut sang Frater

Sekitar bulan November Presiden Soekarno menerima surat terbuka dari seseorang bernama Dadap Waru yang isinya mengecam kedekatan sang Presiden dengan komunis. Saat itu memang Soekarno ingin menyatukan golongan nasionalis, agama dan komunis dengan konsep Nasakom-nya.
 


Di kemudian hari terbukalah samaran sang pemilik nama Dadap Waru tersebut, ia adalah Pater Beek, lengkapnya Frater Josephus Gerardus Beek dari ordo Jesuit.

Tidak cukup dengan mengecam, ternyata Menurut Jos Hagers dalam artikelnya di surat kabar De Telegraaf bulan Juli tahun 1993 sang Frater disebut sebagai salah satu otak kudeta 1965 yang bertujuan memuluskan langkah Soeharto mendongkel Soekarno.

Kepalang basah dengan langkahnya memusuhi komunis, Beek makin dalam terlibat dalam politik praktis. Dengan kepiawaiannya ia berhasil memukul komunis dan Islam sekaligus. HMI, GMNI, pemuda Muhammadiyah tanpa sadar ikut dalam permainan politik, memburu dan mengeksekusi orang orang yang dicurigai sebagai anggota PKI di pelosok desa yang kebanyakan adalah muslim juga, bahkan umumnya mereka tidak tahu menahu tentang pembantaian para Jenderal

Kedekatannya dengan Ali Moertopo sang ketua Opsus mendorongnya terlibat dalam pembentukan sekber GOLKAR. Ia juga terlibat aktif dalam pendirian CSIS tahun 1971 yang menjadi think tank perumus kebijakan Orba.

Menurut beberapa tulisan yang dikumpulkan, Beek melihat ancaman terhadap Katholik selain Komunis adalah Islam dan Militer. Namun dengan prinsip Minus Malum ia menganggap ancaman Militer lebih kecil dibandingkan Islam.

Ada sebuah tulisan yang yang mengatakan sebagai berikut :

Di sebuah kantor di Jalan Gunung Sahari 88, Jakarta, Van den Heuvel sempat mewawancarai Pater Beek. Pada kesempatan itu, Pater Beek menyatakan keprihatinannya tentang komunisme dan menganggap Islam sudah membahayakan. Ia berambisi ‘menyelamatkan’ minoritas pemeluk agama Katholik saat itu.

Pater Beek berpendapat, hal itu dapat diwujudkan dengan memberi dukungan dan penyuluhan ke TNI. Ia tak segan mengirim satuan tentara untuk memperkuat Orde Baru di bawah pimpinan Jenderal Soeharto. Van den Heuvel sendiri mencap Pater Beek sebagai ‘dalang wayang politik’ di Indonesia.

Sebetulnya, Van den Heuvel sudah menyinggung peran misterius Pater Beek dalam sejarah Indonesia di sebuah roman (1991) dan wawancara (1993). Bahkan, di tahun 1993 Van den Heuvel menyebut Beek sebagai otak genius penggagalan kudeta PKI di tahun 1965 dan makar-makar lainnya setelah itu.

Van den Heuvel sendiri menyaksikan di tahun 1966 Pater Beek sedang menyusun naskah pidato di mesin tik tua merek Remington dan keesokan harinya pidato tersebut dibacakan oleh Soeharto. Selain itu, Van den Heuvel melihat beberapa catatan Beek di tahun 1963 mengenai rencana pembentukan Golkar.

Dengan kedudukannya sebagai kepala asrama Realino di Yogyakarta, ia menerapkan program Kasebul (Kaderisasi Sebulan) dengan metode pelatihan ala militer untuk membentuk kader kader militan pendukung sepak terjangnya. Disebutkan salah satu anak didiknya adalah intelektual muda Ahmad Wahib dan Hasan Basri.

Entah benar atau tidak disebut sebut Benny Moerdani adalah salah satu mentor Kasebul.

Aktivitas militannya tidak pernah mendapat pujian menyeluruh dari Gereja di Indonesia. Ia bahkan berseberangan dengan Romo Mangun. Lokomotif Basis, Romo Dick Hartoko terkesan menghindar saat diwawancara Tempo mengenai Beek.

Akhirnya Vatican memindahkan Beek dari Indonesia atas permintaan Soetopo Yoewono Kabakin waktu itu. Walau tahun 1974 ia kembali ke Indonesia.
Ia wafat tahun 1983 dan dimakamkan di Girisonta, Ungaran.

Beek tercatat sebagai 100 dari orang yang mempengaruhi kondisi politik di Indonesia.

Menurut beberapa kalangan Frater Beek dinilai sebagai seorang dengan kepribadian unik, menarik : tegas, disiplin, logis, realistik, sportif, konsekuen dan saleh.

Kalau memang Beek terlibat dengan kudeta dan kegiatan politik praktis sangat disayangkan seorang panutan dalam agama melakukan hal hal seperti itu.

Saya memang selalu menaruh curiga terhadap pemimpin umat yang terlalu dekat dengan penguasa. Entah itu pemimpin umat muslim ataupun nasrani.

Kader Politik Van Lith dan Beek

Kualitas politikus Katolik di lembaga legislatif (DPR, DPD, DPRD), belakangan ini dianggap merosot. Parameternya adalah, jika dibandingkan dengan politikus non Katolik, juga dengan politikus Katolik, hasil kaderisasi van Lith dan terutama Beek.

Tahun 1960, ada ketegangan antara Kasimo, Ketua Partai Katolik dengan Uskup Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata SJ. Setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Bung Karno membubarkan Konstituante, lalu membentuk Kabinet Kerja I. Partai Komunis Indonesia (PKI) diikutkan di dalamnya. Kasimo berpendapat, ideologi PKI yang ateis bertentangan dengan ajaran Katolik, hingga ia memutuskan tidak ikut dalam kabinet. Bung Karno marah. Ketika itu, hanya Partai Katolik yang berani tegas menentang PKI.

Uskup Jakarta, Mgr. Djajasepoetra SJ dan Uskup Purwokerto, Mgr.  Schomakers MSC membuat pernyataan, bahwa ikut tidaknya Partai Katolik dalam pemerintahan, menjadi urusan intern partai itu sendiri. Sementara Mgr. Soegijapranata tidak setuju dengan langkah Kasimo. Ia mengirim wakil golongan Katolik, untuk duduk di Dewan Nasional. Ketegangan berakhir, setelah Kasimo mengundurkan diri sebagai ketua partai, dan digantikan Frans Seda.

Sebagai Ketua Partai Katolik, Frans Seda menjadi Menteri Perkebunan pada Kabinet Kerja IV (1963 -1964), Dwikora I (1964 - 1966), dan Dwikora II (Februari - Maret 1996). Kemudian Menteri Pertanian pada Kabinet Dwikora III (Maret - Juli 1966); Menteri Keuangan Kabinet Ampera I (1966 - 1967), dan Ampera II (1967 -1968); serta Menteri Perhubungan pada Kabinet Pembangunan I (1968 -1973). Tahun 1973 Frans Seda menjadi Dubes RI untuk Belgia dan Luksemburg, merangkap perwakilan RI untuk Masyarakat Ekonomi Eropa.

Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono (1900-1986), dan Albertus Soegijapranata SJ (1896 - 1963), adalah kader Franciscus Gregorius Josephus van Lith SJ (1863 - 1926).

Sebagai Pastor Belanda, Van Lith dengan tegas mengatakan bahwa Katolik tidak identik dengan agama kaum penjajah. Frans Seda (Franciscus Xaverius Seda, lahir 4 Oktober 1926), bukan kader van Lith, meski ia sekolah MULO dan HIK di Muntilan. Tokoh politik sesudah Frans Seda, kebanyakan kader Josephus Gerardus Beek SJ (1917 - 1983).
Teman-teman Jesuit, biasa memanggilnya Joopie Beek. Sama dengan Kasimo, ia seorang anti komunis sejati. Peran kaderisasi Beek, biasanya selalu dikaitkan dengan Khalwat Sebulan (Khasebul). Orang-orang menyebutnya Kaderisasi Sebulan, atau Kawan Sebulan, yang diselenggarakan di Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur (1960 - 1970-an). Padahal, kader-kader utama Beek, sebenarnya justru dihasilkan dari  Asrama Mahasiswa Realino, Yogyakarta (1950-an), Kongregasi Maria, di Jakarta (1960-an), dan melalui Ikatan Buruh Pancasila (1957 - 1973).
* * *

Di Realino, Beek adalah "Bapak Asrama". Di Kongregasi Maria, ia moderator. Di Buruh Pancasila, statusnya penasehat, dan tahun 1960-an jabatan itu diserahkannya ke Johanes Baptista Dijkstra SJ (1911 - 2003). Dalam Khasebul, Beek kembali berperan intens menggembleng kadernya. Kualitas anak didik Beek, rata-rata di atas kader politik era 1960 - 1970-an pada umumnya, dan terbanyak sebenarnya justru terjun di bidang non politik. Sebab kader Beek yang menjadi imam, juga cukup banyak.

Awal tahun 1970, Partai Katolik masih ada, tetapi Beek lebih banyak mendorong kadernya untuk aktif di Golkar. Pemilu 1971, masih diikuti oleh 10 partai, termasuk Partai Katolik. Baru tahun 1973, 10 parpol peserta Pemilu 1971, berfusi menjadi tiga partai. Partai Katolik, Partai Nasional Indonesia (PNI), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), dan Partai Kristen Indonesia (Parkindo), berfusi menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Beda dengan van Lith, informasi tentang Beek, selama ini sangat minim. Banyak pihak menduga informasi itu sengaja disembunyikan. Padahal sebagai anggota Serikat Jesus, informasi tentang Beek sama terbukanya dengan anggota lainnya. Bulan September ini, genap 25 tahun Beek meninggal. Para "murid" yang tersebar di banyak tempat, berinisiatif menerbitkan biografi Beek, dan menyelenggarakan acara sederhana di Girisonta, Kabupaten Semarang, tempat ‘Sang Guru" dimakamkan.

(F. Rahardi, Wartawan & Penyair)
SUMBER: Majalah HIDUP No. 36 - 7 September 2008

Pater Beek - Kasebul

Terima kasih atas paparan sejarah berupa flash back dari anda yang mengalami
sendiri sebagai saksi sejarah, terutama pengalaman ayah anda. Sangat menam-
bah wawasan saya pribadi ttg banyak hal yang tidak diketahui selama ini.

Saya cuma mau urun rembug sedikit tambahan ttg Pater Beek (Romo Van Beek?)
yang saya sendiri pernah melihat sepak terjangan kader-kader-nya.

Tahun 1974, saya kuliah di Yogya, ikut teman-teman asrama gabung di PMKRI
sebagai anggota baru. Suatu kali, ada aktivis yang terpilih di antara anggota
ba-
ru kut 'kasebul' - kaderisasi sebulan, yang dimotori oleh Pater Beek di Klender,
Jakarta timur. Jadi mereka 'cuti' kuliah selama sebulan penuh ikut latihan yang
kabarnya bergaya militer dan sangat militan. Dan, kabarnya mereka disumpah
untuk menjaga rahasia cara-cara kaderisasi-nya, bergerak di 'bawah tanah'.

Sekembalinya mereka ke Yogya, lantas terjadi 'kudeta' pengurus PMKRI lama.
Dengan cara bagaimana (sorry, saya tidak mengikuti detilnya) mereka bisa me-
lakukan kudeta dengan 'menggulingkan' pengurus lama. Kata seorang teman
kuliah, memang mereka punya 'misi' yang ditugaskan oleh Pater Beek untuk
melakukan 'kudeta' itu sebagai latihan praktek. Dan, kelompok 'elite' jebolan
kasebul itu, memakai cincin khusus pemberian sang pater. Dan mereka berga-
ya petantang-petenteng bak koboi ketika baru 'lulus', baik di kampus mau-
pun di marga siswa (sekretariat) PMKRI. Entah sekarang masih ada tidak itu
kasebul, walau Pater Beek sudah meninggal, mungkin ada penerusnya toh?

Sejujurnya saja, kami yang non-kasebul tidak merasa simpati kepada mereka.
Kalau ndak salah, waktu itu ada 'tandingan'nya yang juga dimotori oleh romo
atau pastor lain, yang berseberangan dengan Pater Beek. Jadi antara mereka
kayaknya ada 2 kubu juga, atau mungkin tiga: kiri, tengah dan kanan?

Mong-omong, sebenernya sejarah penggolongan kiri, tengah dan kanan itu,
asal muasalnya dulu bagaimana ya? Mengapa yang satu disebut kiri, dan ke-
napa yang lain disebut kanan, bukan sebaliknya? Barangkali ada yang tahu?


Begitu sajah sih ya.
Tolong dikoreksi kalau ada yang salah, sila tambah kalau ada yang kurang.

Salam damai itu indah sajah,
Ophoeng
BSD City, Tangerang

Kader Katolik Menurut Romo Beek

Ditulis oleh : J. Soejati Djiwandono PhD

Dalam rangka memperingati dua puluh lima ta­hun meninggalnya Romo Joseph Beek SJ (1917-1983), ada rencana menerbitkan beberapa tulisan mengenai beliau dan karya-karyanya.
Tulisan di bawah mi dimaksudkan untuk melengkapi apa yang saya mengerti dan saya ingat sebagai pelaksana­an praktis proses kaderisasi oleh Romo Beek.

Kader: Binatang macam apa itu?

Dalam sejarah, apa yang disebut “kader”, kata dalam bahasa Perancis cadre, mengacu pada staf pimpinan per­manen pada suatu pusat latihan militer yang melatih para calon pasukan. Dengan begitu, mereka dapat membentuk satuan-satuan baru. Dengan kata lain, cadre merupakan korps militer profesional yang dipelihara dalam masa damai sebagai basis militer yang diperlukan dalam masa peperangan. Pada zaman itu, sebelum mapannya negara-­bangsa, negara tidak memiliki tentara nasional yang permanen, melainkan membentuk tentara bayaran yang bersifat kosmopolitan, dalam arti dan kebangsaan apa pun, untuk keperluan peperangan. Tetapi, pasukan ten­tara seperti itu dibubarkan setelah perang usai karena mahal pemeliharaannya.

Awal keterlibatan

Saya berangkat ke Selandia Baru untuk mengikuti kur­sus menjadi guru bahasa Inggris di Victoria University di Wellington tahun 1961 dengan syarat dan pemerintah Indonesia waktu itu, bahwa sekembali saya ke Tanah Air saya harus menjadi pegawai negeri. Saya berhasil lulus dengan nilai terbaik dan mendapatkan tawaran beasiswa untuk mencapai BA di Universitas Otago, Dunedin. Di situ saya mengambil Political Science dan Bahasa Russia dan berhasil mencapai gelar BA. Tahun 1966, dalam per­jalanan pulang ke Indonesia, saya mampir di Kedutaan Indonesia di Australia dan mengatakan bahwa saya tidak akan memenuhi janji saya untuk menjadi pegawai nege­ri. Jawaban yang saya peroleh membesarkan hati saya. Mereka berkata: “Saudara sudah terlalu lama di luar nege­ri. Orang di Jakarta sudah lupa tentang syarat itu!”

Oleh karenanya, satu dua hari sekembali saya dari New Zealand, saya diantar oleh adik saya Soedradjad untuk dikenalkan pada Saudara J.B. Oetoro untuk bersama dia menemui Romo Beek di kantornya di Jl Gunung Sahari 88. Saya ingin bergabung dalam proyek Romo Beek.

Kadas

Sebelum kaderisasi sebulan (kasebul) dimulai, terlebih dahulu diadakan kaderisasi dasar (kadas) dalam waktu seminggu, yang dihadiri oleh kurang lebih 20 orang, dari pelbagai kota ini dipimpin oleh Romo Beek sendiri dengan beberapa~orang. Saya memimpin kadas sendiri beberapa kali, di Bogor dengan tiga orang termasuk Se­orang pastor, dan di Semarang dengan seorang teman (Almarhum Saudara Haksoro) ditemani oleh pastor paroki.
Materi kadas meliputi masalah-masalah dasar seperti demokrasi, ormas, dan orpol. Peserta-peserta kasebul dipilih oleh pimpinan daerah dari para peserta kadas, sehingga setiap rombongan mencapai jumlah kurang lebih 30 orang, yang datang dan beberapa daerah juga.
Kemudian, setelah jumlah kader kasebul (Kas) mencu­kupi, peserta—peserta kadas dipilih dan dilatih oleh para alumni Kas sendiri.

Kasebul

Pengikut kaderisasi sebulan diambil dari mereka yang telah lulus mengikuti kadas dan tinggal di seputar pusat kota universitas. Di samping pendidikan kader, mereka akan memperoleh berbagai macam kuliah oleh narasum­ber yang berbeda. Pada satu hari bisa dikumpulkan kurang lebih 20 orang calon pengajar. Para pengajar memilih dari daftar mata kuliah yang ada di papan tulis. Karena ragu-ragu, saya ditunjuk oleh Romo Beek sendiri untuk mengajar masalah kepantaian. Sekali saya memberi cera­mah pada World Youth Movement, “Follow-up to Cadre Training “, dan menulis “Indonesian Catholicism” dalam jurnal Manna yang diterbitkan oleh Melbourne University atas permintaan Romo Beek untuk kepentingan perkenal­an.
Saya mengerti tentang kerasnya disiplin yang dituntut dari para kader. Pada suatu hari ada seorang kemenakan saya, seorang gadis, yang sudah selesai latihan kase­bul dengan nilai terbaik. Tetapi, pada malam terakhir dia diketahui Romo Beek keluar kamar. Dia langsung dipanggil dan dinyatakan keluar dan harus segera pulang  pada pagi harinya. Romo Beek kemudian minta maaf kepada saya tentang kejadian itu. Saya hanya menjawab: “Dia sudah Romo keluarkan, ya sudah!”

Dalam kaderisasi Romo Beek, tidak ditentukan akan menjadi apa para kader nantinya. Mereka akan diperlu­kan dalam segala bidang kehidupan di masyarakat. Yang penting adalah keyakinan imannya dan keahlian dalam bidangnya sendiri.

Tetapi, kader macam apa yang diimpikan oleh Romo Beek? Bukan sekadar kader Katolik! Bukan kader Beek! Bukan kader PMKRI! Bukan pula kader CSIS! Bukan kader Kongregasi Maria! Bukan kader Pemuda Katolik. Yang dicari oleh Romo Beek adalah kader PANCASILAIS!

“Evaluasi”

Di samping kaderisasi, Romo Beek juga mengadakan diskusi setiap Jumat malam di tempat-tempat yang ber­beda: di Keuskupan, di Gedung KWI, di salah satu gedung sekolah Katolik, dsb. untuk membahas masalah-masalah aktual di antara para pengajar kasebul, para kader, para pastor, bahkan Bapak Uskup Djojoseputro, dan para tokoh politik Katolik. Paginya oleh Romo Beek ditulis selebaran Evaluasi yang kebanyakan hanya satu lembar untuk mengupas masalah-masalah aktual dan pendirian nasional dan Katolik sebagai hasil pertemuan malam sebelumnya.

Selebaran-selebaran itu dikirimkan ke berbagai pihak, termasuk surat kabar. Bahkan, isinya satu-dua kali dimuat di Majalah Times. Yang menulis evaluasi itu terutama adalah Romo Beek sendiri, tetapi sering juga ditulis oleh Sdr Oetoro, atau saya sendiri, atau teman yang lain, seperti Sdr Haksoro dan Sdr Kajat Hartoyo (keduanya Almarhum). Tetapi, semuanya pasti diperiksa oleh Romo Beek sendi­ri.

Untuk beberapa waktu, saya juga menulis beberapa lembar ulasan politik dengan tambahan ulasan ekonomi oleh adik saya Soedradjad untuk konsumsi luar negeri. Ulasan itu ditulis dalam bahasa Inggns dan dinamai Monthly Review. Tidak lama kemudian, saya berhenti sama sekali bekerja untuk Romo Beek, karena kaderisasi akan segera diakhiri oleh Jenderal Yesuit Arupe dengan alasan yang tidak jelas.

Kami membujuk Romo Beek agar menentang perintah Arupe, tetapi Romo Beek berpendirian, bahwa dia seorang pastor, yang “di depan umum ketika ditahbiskan sebagai imam saya bersumpah untuk setia pada atasan. Kalian akan menyesal di kemudian hari kalau saya me­nuruti kehendak kalian”. Tak lama setelah itu, saya menutup kantor “Biro Dokumentasi” atas nama Romo Beek. Tetapi, kasebul tidak bisa berhenti mcndadák, jadi tetap berjalan terus untuk sementara.

Beberapa waktu sebelum “Biro Dokumentasi” tutup, saya bekerja sebagai Sekretaris, dan kemudian Direktur Eksekutif Center for Stra­tegic and International Studies (CSIS) menggantikan Sdr Mingky yang pergi ke Rand Corporation untuk studi PhD. Karena sesuatu hal saya meletakkan jabatan, dan pergi ke London untuk meneruskan belajar di London School of Economics and Political Science (LSE) atas bantuan Jenderal All Murtopo, Ketua Kehormatan CSIS. –

Sekembali saya dari Inggris lima tahun kemudian dan setelah meraih gelar PhD, saya dapati Romo Beek sakit parah. Saya sempat menemani Romo Beek sehari di Rumah Sakit St Carolus bersama istri saya, Vonny. Sakit liver yang lama dideritanya semakin parah. Keesokan harinya saya pamit pada Romo Beek, bahwa saya harus ke Amerika Serikat selama sebulan. Jawaban Romo Beek, “Balk, kamu pergi dulu ke Amerika, sebentar lagi saya pasti akan menerima “penyelesaian dari Tuhan”.” Ia tertawa sambil menggerakkan kepal­an tangannya ke arah perut saya. Kegembiraan dan rasa optimis tetap menjadi ciri Romo Beek, walau di benak saya sudah membayangkan hal yang paling buruk.

Mengisi kekosongan

Kaderisasi Romo Beek berhenti beberapa waktu. Setelah diganti­kan oleh Romo Lukas SJ, dan tempat pertemuan dipindah ke Lam­pung, saya kerap kali mengadakan diskusi dengan para alumni kase­bul di Yogyakarta dan Solo, juga di Bandung, Purwokerto, Malang, Surabaya, Semarang, Manado, dan tempat-tempat lainnya untuk refreshing dan memelihara momentum. Saya masih tetap akrab dan terus kontak dengan Romo Lukas walau saya tidak lagi mengajar, karena kami dijiwai oleh semangat yang sama, “Semangat Romo Beek”.

Sumber : Majalah HIDUP No. 38 – 21 September 2008

CSIS, Pater Beek SJ, Ali Moertopo & L.B. Moerdani

oleh : Dr. George J. Aditjondro


Pada salah satu seminar membicarakan pemilu di kantor CSIS di Tanah
Abang, Jakarta, tanggal 3 September 1996, Panda Nababan, seorang
wartawan senior Jakarta, tiba-tiba angkat bicara. Dengan tenang Panda
Nababan menuduh CSIS sebagai pusat tempat dirumuskannya banyak
keputusan Politik Indonesia masa lalu yang merepotkan kita semua sekarang
ini.
Dr. Sudjati Djiwandono, seorang pembicara dalam acara itu juga sulit
menyembunyikan amarahnya kepada Panda Nababan.
Tapi Harry Chan Silalahi yang menjadi moderator pada saat itu, meski
bisa menahan diri untuk menangkis tuduhan Panda Nababan, tapi ia tetap
tenang, dan seperti biasanya penuh senyum, meski kabarnya terlihat
gugup. Beberapa hari kemudian, dengan bantuan harian Kompas (tgl. 7
September 1996), Harry Chan Silalahi memberikan wawancara khusus yang
membantah semua tuduhan Panda Nababan. Disana dengan gaya orang rendah
hati Harry Chan membeberkan betapa salahnya orang yang menganggap CSIS
itu memainkan peranan penting pada belasan tahun pertama Orde Baru.
Yang ada sebenarnya hanya kedekatan antar individu, bukan CSIS dengan
pemerintah, kata Harry Chan.
Para pendiri CSIS itu dekat dengan pemerintah, katanya. Ia menyebutkan
dirinya sebagai tokoh KUP Gestapu (Front Pancasila), Liem Bian Kie
(Yusuf Wanandi) sebagai tokoh Golkar, demikian juga dengan Sudjati
Djiwandono. Dan tentu saja SudjonoHumardani dan Ali Murtopo yang
memang Aspri Suharto.
Kepada harian Kompas, Harry Chan menjelaskan: “Pada prinsipnya CSIS
membatasi diri untuk tidak terlibat dalam soal taktis politik.
Meskipun demikian CSIS kerapkali diisukan telah melakukan hal itu.
Padahal pembahasan masalah dalam negeri yang dilakukan CSIS bersifat
strategis konsepsional” .
CSIS terbentuk, menurut Harry, pada tahun 1971 ketika Hadi Susastro
dan beberapa kawan-kawannya pulang belajar dari Eropa. Merekalah yang
mengusulkan dibentuknya sebuah lembaga think tank. Tidak dijelaskan
oleh Harry bahwa sebelumnya bergiat dalam CSIS, para kader Beek itu
sudah berkiprah dalam operasi khusus (Opsus) pimpinan Ali Murtopo.
Masih belum yakin dengan bantahannya lewat harian Kompas, sebulan
kemudian, lewat harian Nusa Tenggara (terbit di Denpasar) edisi 13
Oktoer 1996, Harry Chan muncul lagi dalam sebuah wawancara yang
menggunakan hampir satu halaman surat kabar. Di sini sekali lagi Harry
Chan melakukan cuci tangan terhadap semua tingkah laku politik CSIS di
masa jaya Ali Murtopo hingga masa akhir berkuasanya L.B. Murdani.
Penjelasan panjang lebar Harry Chan dalam koran terbitan pulau Bali
itu sepintas lalu sangat persuasiv serta menyakinkan, terutama bagi
generasi muda yang tidak mengalami pergolakan politik awal Orde Baru.
Tapi bagi orang seperti saya, semua cerita Harry Chan itu sebenarnya
adalah isapan jempol belaka.
Perhatikan bahwa dalam semua penjelasan Harry Chan sama sekali tidak
pernah menyebut Opsus dan keterlibatan kaum katolik ekstrem kanan di
sana. Mereka yang tergolong generasi 66 di Jakarta masih ingat kantor
mereka (Opsus) di Jalan Raden Saleh Jakarta Pusat. Juga penjelasan
Harry Chan sama sekali tidak terdengar nama Pater Beek SJ, pastor
kelahiran Belanda yang memainkan peranan besar di balik lahirnya CSIS
tersebut.
Beek adalah pastor ordo Jesuit yang sudah aktiv lama di Indonesia
melakukan kaderisasi para pemuda dan mahasiswakatolik. Ia melakukan
kegiatan kaderisasinya di asrama Realino Yogyakarta, di samping
melakukan kaderisasi di Klender, Jakarta. Di Klender kegiatan itu
disebut Kasebul (Kaderisasi sebulan). Dalam kegiatan Kasebul itu bukan
cuma indoktrisasi yang dilakukan, bahkan latihan pisik yang mendekati
latihan militer juga diberikan. Di sana para kader dilatih menghadapi
situasi jika diinterograsi oleh lawan. Bagaimana meloloskan diri dari
tahanan, bagaimana survive dan sebagainya.
Latihan seperti ini ditujukan untuk mempersiapkan showdown dengan
komunis waktu itu. Kegiatan ini kemudian diketahui oleh Subandrio yang
memimpin BPI (Badan Pusat Intelejen). Akibat kejaran BPI Pater Beek
terpaksa melarikan diri ke luar negeri dekat sebelum Gestapu 1965.
Beek kembali ke Indonesia setelah Subandrio ditangkap dan BPI
dibubarkan.
Sebagian dari lulusan terbaik Kasebul ini dikirim untuk latihan lebih
jauh lagi di luar negeri. Salah seorang yang berhasil dikirim keluar
negeri sebelum Gestapu adalah yang kemudian menjadi wakil komandan
Laskar Ampera, Louis Wangge almarhum. Wangge dikirim oleh Beek ke
Universitas Santo Thomas, Filipina. Begitu yang diketahui orang. Tapi
kemudian Wangge sendiri mengaku bahwa sebenarnya ia dikirim ke sebuah
pusat latihan intelejen di sebuah pangkalan Amerika di Filipina.
Cerita tentang ini semua dikisahkan Wangge setelah ia dikucilkan oleh
CSIS karena sikap Wangge yang menolak kebijakan SCIS yang anti Islam.
Dalam keadaan tegang antara Wangge dan CSIS di pertengahan tahun tujuh
puluhan, misalnya, Wangge pernah menyundut rokok menyala ke baju yang
melekat di tubuh Sofyan Wanandi dikamar kecil bioskop Menteng (bioskop
itu sudah digusur sekarang).
Saya sendiri juga pernah menjadi kader Pater Beek dan dilatih melawan
komunis. Tapi seperti juga Wangge, ketika CSIS sudah menjadikan Islam
sasarannya, dan karena CSIS menjadi tanki pemikir Rezim Suharto, juga
karena ikut berdarahnya tangan CSIS di TimorTimur, saya tidak bisa
lagi tetap berada dalam jajaran pengikut Pater Beek. Terutama setelah
demi ambisi kekuasaan dan kontrol orang-orang CSIS (Liem Bian Kie dan
Sudradjat Djiwandono) Partai Katolik pun mereka gilas. Begitu yakinnya
mereka akan pentingnya mengontrol Indonesia lewat Golkar, mereka tega
menindas Uskup Atambua (mempertahankan Partai Katolik), orang yang
sebenarnya berjasa dalam proses integrasi Timor-Timur.
Sebagai wartawan Tempo yang sudah mengunjungi Timor Timur sebelum
invasi operasi intel pimpinan Murdani, dan mengikuti perkembangan
wilayah itu hingga kini, saya tahu bagaimana permainan Murdani bersama
orang-orang CSIS dalam mengeruk uang dari Timor-Timur, setelah
sebelumnya membantai secara kejam banyak penduduk bekas jajahan
Portugis tersebut. Dengan uangyang terus mengalir (monopoli kopi yang
dikelola oleh Robby Ketek dari Solo) itulah mereka, antara lain, bisa
membiayai operasi-operasi politik Murdani bersama CSIS.
Tapi siapa sebenarnya Beek? Menurut cerita dari sejumlah pastor yang
mengenalnya lebih lama, Beek adalah pastor radikal anti komunis yang
bekerja sama dengan seorang pastor dan pengamat Cina bernama pater
Ladania di Hongkong (sudah meninggal beberapa tahun silam di
Hongkong). Pos china watcher (pengamat Cina) pada umumnya dibiayai
CIA. Maka tidak sulit untuk dimengerti jika Beek mempunyai kontak yang
amat bagus dengan CIA. Sebagian pastor mencurigai Beek sebagai agen
Black Pope di Indonesia. Black Pope adalah seorang kardinal yang
mengepalai operasi politik katolik di seluruh dunia.
Tentang Black Pope ini tidak banyak diketahui orang, juga pastor
katolik yang tidak tahu mengenai kedudukan, peran, dan operasi Black
Pope yang sangat penuh rahasia itu. Tapi ketika almarhum Dr.
Sudjatmoko menjadi Rektor Universitas PBB di Tokyo, ia pernah
berkunjung ke Tahta suci di Vatikan. Selain berjumpa Paus, Sudjatmoko
juga jumpa seorang Kardinal yang mengajaknya berbicara banyak mengenai
keadaan di Indonesia. Sudjatmoko merasa surprise bahwa Kardinal itu
tahu banyak tentang politik di Indonesia. Tidak lama setelah pulang ke
Indonesia sebagai pensiunan rektor Universitas PBB, pimpinan harian
Kompas mengirimkan orang kepada Sudjatmoko untuk meyakinkannya agar
tidak usah cemas masalah finansial. Kalalu ada apa-apa Kompas bersedia
membantu. Dari tawaran simpatik Kompas itulah Sudjatmoko yakin adanya
kontrol Black Pope terhadap kegiatan katolik di Indonesia.
Kembali kepada Beek, yang makin memperkukuh posisi kader Beek di mata
tentara adalah sikap mereka yang didasarkan oleh kebijakan yang
digariskan oleh Beek.
Kebijakan itu dikenal sebagai Lesser evil theory (teori setan kecil).
Setelah komunis dihancurkan olehtentara, Beek melihat ada dua ancaman
(setan) yang dihadapi kaum Katolik di Indonesia. Kedua ancaman
sama-sama berwarna hijau. Islam dan tentara. Tapi Beek yakin, tentara
adalah ancaman yang lebih kecil (Lesser evil) dibanding Islam yang
dilihatnya sebagai setan besar. Berdasarkan pikiran itulah maka
perintah Beek kepada kader-kadernya adalah rangkul tentara dan gunakan
mereka untuk menindas Islam.
Kebetulan sekali setelah Gestapu, pihak Islam (terutama mantan
Masyumi) dianggap meminta terlalu banyak imbalan jasa dari
partisipasinya dalam penumpasan Gestapu. Padahal Suharto dan pimpinan
ABRI lainnya sudah berkeputusan untuk mengelola sendiri negara dan
tidak akan berbagi kekuasaan dengan siapa pun, apalagi dengan kekuatan
Islam. Ketegangan Islam lawan tentara inilah yang melicinkan
dipraktekkannya doktrin Lesser evil Pater Beek tersebut.
Kebetulan lain adalah adanya Ali Murtopo dan Sudjono Humardani. Kedua
orang ini mempunyai sejumlah persamaan meski ada perbedaan
mendasarnya. Sudjono dan Ali sama-sama ingin mengabdi kepada Suharto.
Tapi Ali Murtopo punya rencana jangka panjang untuk berkuasa (I will
be the next president, kata Murtopo kepada wartawan Tempo, Tuty
Kakiailatu, pada masa kampanye Pemilu 1971) sedang Humardani adalah
orang Solo yang sudah bahagia jika bisa menjadi abdi dalam yang baik.
Ambisi Ali Murtopo inilah yang dimanfaatkan oleh kader-kader Pater
Beek tersebut.
Banyak orang yang tidak percaya kalau Ali Murtopo (keluarga santri
dari pesisir Jawa dan bekas hisbullah di jaman revolusi) bisa menjadi
orang yang sangat anti Islam dan berjasa besar dalam menindas orang
Islam di awal Orde Baru. Yang orang cenderung lupa adalah bahwa Ali
Murtopo punya rencana berkuasa, oleh karena itu semua yang
merintanginya untuk mencpai tujuannya haruslah ditebas habis. Musuhnya
bukan cuma Islam, tapi juga Perwira-perwira ABRI yang dianggapnya
sebagai perintang, seperti H.R. Dharsono, Kemal Idris, Sarwo
EdhiWibowo dan Soemitro (Pangkopkamtib) . Almarhum Dharsono (Pak Ton)
difitnahnya berkonspirasi dengan orang-orang PSI untuk menciptakan
sistem politik baru untuk menyingkirkan Suharto. Kemal Idris
dituduhnya berambisi jadi Presiden. Sedang Sarwo Edhy difitnahnya
merencanakan usaha menajibkan (menendang ke atas) Suharto.
Kader-kader Beek yang kemudian mendirikan CSIS dan waktu itu masih
berkumpul dalam Opsus tahu betul mengenai ini, dan mereka ikut
membantu Ali Murtopo mencapai ambisi berkuasanya.
Pada tahun 1974 terjadi Malari di Jakarta. Orang-orang Opsus yang
berada dibalik kerusuhan dan pembakaran-pembakar an merasa dengan itu
bisa menghabisi lawan mereka yang dipimpin Soemitro. Kemudian terbukti
memang Soemitro yang kurang canggih berpolitik itu berakhir karir
militernya dengan cara yang sangat mengenaskan. Namun yang menang juga
bukan Ali Murtopo. Suharto ternyata jauh lebih pintar dari Ali dan
Soemitro. Kedua Jenderal yang berambisiitu dalam waktu singkat habis
peranan politiknya.
Selama Ali masih menjadi orang penting di sekitar Suharto, salah
seorang kadernya disimpannya di Korea Selatan sebagai Konjen. Itulah
LB. Murdani. Sudah sejak di Kostrad pada jaman konfrontasi dengan
Malaysia, para senior di Kostrad kabarnya sudah melihat tanda-tanda
adanya rivalitas diam-diam antara Ali dan Murdani. Banyak yang menduga
perbedaan mereka pada gaya. Ali suka pamer kekuasaan, sedang Murdani
penuh kerahasiaan dan misteri. Persamaan mereka adalah semua haus
kekuasaan. Tapi dalam ingin berkuasa ini juga ada perbedaan. Ali ingin
menjadi orang yang berkuasa, sementara Murdani hanya ingin menjadi
orang yang mengendalikan orang yang berkuasa.
Tapi setelah terjadi Malari. Ali Murtopo tidak bisa lagi menghalangi
Murdani untuk tampil ke depan. Sejak itulah bintang Murdani mulai
menanjak. Murdani boleh berbeda style dengan Ali, tapi karena
sama-sama ingin berkuasa, keduanya perlu tanki pemikir. Maka CSIS yang
mulai cemas karena merosotnya posisi dan peran Ali Murtopo pada masa
paska Malari, berjaya lagi oleh naiknya Murdani.
Berlainan dengan Ali Murtopo yang ditakutkan bisa merupakan ancaman
bagi CSIS kelak ketika berkuasa (ingat Suharto yang kini berbalik
kepada Islam setelah menindasnya dahulu?) Murdani adalah orang katolik
yang kebetulan secara pribadi sangat benci kepada Islam. Karena itu
lancar saja kerjasama Murdani dengan CSIS. Sebagai orang katolik
ekstrem kanan Murdani di CSIS merasa di rumah sendiri. Itulah sebabnya
mengapa Moerdani sekarang dengan tenang bisa berkantor di CSIS
(menggunakan bekas kantor Ali Murtopo).
Dipanggil pulang dan diberi bintang dan kuasa oleh Suharto setelah
hampir terlupakan di Korea Selatan dan (sebelumnya) Kuala Lumpur,
Murdani sangat berterima kasih kepada Suharto. Merasa telah mengutangi
budi kepada Murdani, Suharto merasa dengan aman bisa menyuruh Murdani
berbuat apa saja tanpa harus takut dikhianati. MemangMurdani menjadi
“herder” Suharto yang menggigit siapa saja yang dianggap Murdani
membahayakan Suharto. Maka Suharto makin percayalah kepada Murdani.
Kepercayaan yang besar itulah kemudian yang menjadi modal bagi ambisi
lama Murdani untuk menjadi King Maker. Kepada seorang perwira Kopassus
di akhir tahun 1980-an Murdani katanya pernah berseloroh: “Buat apa
jadi orang berkuasa jika bisa dengan tanpa resiko kita mengontrol
orang yang berkuasa”. Memang itulah yang digeluti Murdani di belakang
Suharto. Keberhasilan Murdani dan Sudomo membesar-besarkan bahaya
Petisi 50 (AH. Nasution hampir ditangkapMurdani, tapi dicegah oleh TB.
Simatupang) berhasil mengecoh Suharto untuk mengeluarkan sebuah surat
pamungkas yang memberi kuasa lebih besar lagi kepada Murdani. Dengan
kekuasaan amat besar dari Suharto itulah ia dengan gampang dan cepat
bisa membangun kerajaan dan operasi intelnya (BAIS).
Menurut Wismoyo Arismunandar (mantan Kasad), orang yang mula-mula dan
dari awal punya firasat buruk terhadap Murdani adalah Ibu Tien
Suharto. Tapi karena Suharto sangat koppeg dan merasa paling tahu
sendiri, baru pada tahun 1988 Murdani berhasil disingkirkan. Tapi
sebelum meninggalkantahta kekuasaannya, Murdani sudah berhasil
menciptakan beberapa calon raja yang menurut rencana akan dikontrolnya
kelak. Salah seorang di antaranya adalah Try Sutrisno. Begitu patuh
Try Sutrisno kepada Murdani sehingga sebagai kepala BAIS, Try Sutrisno
di Mabes ABRI adalah staf yang dulu diangkat, dipercaya, dan pernah
dipakai oleh Murdani sebagai Pangab.
Dalam soal memilih kader, Ali Murtopo dan Murdani sama. Keduanya amat
berbeda dengan Pater Beek. Beek memilih pemuda dan mahasiswa Katolik
terbaik. Tujuannya adalah agar kader-kader tersebut dengan kecerdasan
dan kelihaiannya sanggup mengendalikan orang lain untuk mencapai
tujuan yang diamanatkan Beek. Pater Beek SJ tahu betul bahwa Indonesia
ini penduduknya adalah mayoritas Islam, oleh karena itu orang Katolik
jangan bermimpi untuk tampil berkuasa. (Murdani sadar akan hal ini,
karena itu ia hanya ingin jadi King Maker). Tapi mereka harus
mengusahakan agar yang berkuasa adalah orang Islam yang mereka bisa
atur. Inilah penjelasan mengapa Try Sutrisno dijagokan oleh Murdani
dan untuk itu dipakai orang Islam lain yang bisa diaturnya, yaitu
Harsudiono Hartas.
Ali Murtopo dan Murdani memilih bukan orang terbagus yang ada untuk
jadi kader, tapi orang-orang yang punya cacat atau kekurangan, (orang
yang ketahuan korup, punya skandal, bekas pemberontak, mereka yang
ingin kuasa, ingin jabatan, ingin kaya cepat, dan sebagainya).
Orang-orang demikian mudah diatur. Perbedaan inilah justru yang
menyebabkan Ali Murtopo dan Murdani mudah bekerjasama dengan
kader-kader Pater Beek SJ. Lewat tangan Ali Murtopo dan Murdani
cita-cita dan rencana Beek SJ pernah berhasil dijalankan dengan
saksama. Meski tragis, tapi inilah yang penjelasannya mengapa yang
melaksanakan kebijakan anti Islam (lewat tangan Ali Murtopo dan
Murdani) kebanyakan adalah orang-orang Islam yang tidak sadar
diperalat oleh Ali Murtopo dan Murdani untuk ambisi mereka
masing-masing.